Sabtu, 13 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
petualangan merupakan hal yang menasikkan bagi saya, tidak masalah mau kemana saja asalkan ada uangnya pasti ikutan, selain berpetualang mendokumentasikan sesuatu moment penting dalam perjalanan merupakan hal yang sanagat vital karena satu-satunya oleh-oleh yang harus di bawa pulang adalah foto-fot
| | LAPORAN KEGIATAN |
| |
|
MENAPAK KEMBALI JEJAK Raflessia rochucenii
DI GUNUNG MANDALAWANGI,
TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO
“ Ekplorasi Puspa Langka (Raflessia rochucenii) dan Studi Geomorfologi Gunung Mandalawangi ”
AZIMUTH – BIRO LINGKUNGAN HIDUP
HIMPUNAN MAHASISWA ILMU TANAH
DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
LATAR BELAKANG
Azimuth merupakan biro lingkungan hidup di Departemen Tanah, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. AZIMUTH dibentuk 18 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 12 September 1992, dan diresmikan secara simbolik di Gunung Galunggung Tasikmalaya, Jawa Barat.
Tanaman Raflessia rochucenii. merupakan salah satu jenis spesies Rafflessia yang merupakan tanaman yang dilindungi. Tanaman ini bersimbiosis dengan tanaman Liana.
Keberadaan Raflessia rochucenii di Gunung Mandalawangi pertama kali ditemukan dan diseminarkan secara nasional oleh Azimuth. Oleh sebab itu Azimuth mendapat hak konservasi terhadap jenis flora tersebut. Tanggung jawab Azimuth adalah memantau keberadaan, keadaan dan kemudian memberikan laporan kepada pihak Taman Nasional Gede Pangrango.
Adanya kecenderungan meningkatnya konversi hutan menjadi lahan pertanian ataupun perkebunan di daerah Gunung Mandalawangi, menyebabkan terancamnya populasi tanaman Raflessia rochucenii. Oleh sebab itu, pengecekan jumlah populasi yang masih ada dan kondisi hábitat tumbuhnya perlu dilakukan kembali secara langsung di lapangan.
TUJUAN
Kegiatan ini bertujuan untuk :
1. Melakukan observasi dan inventarisasi Raflessia rochucenii di Gunung Mandalawangi (TNGP) serta mempelajari siklus hidup tanaman tersebut.
2. Mempelajari kondisi bentang lahan (geomorfologi) serta perubahan tata guna lahan yang terjadi di Gunung Mandalawangi.
NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini diberi nama “Menapak Kembali Jejak Raflesia rochucenii di Gunung Mandalawangi, Taman Nasional Gede Pangrango”
TEMA KEGIATAN
Kegiatan ini bertemakan “ Ekplorasi puspa langka (Raflessia rochucenii) dan studi geomorfologi Gunung Mandalawangi ”
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Tanggal : 25 – 31 Januari 2010
Tempat : Gunung Mandalawangi, TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango),
Desa Bojong Murni, Bogor, Jawa Barat.
BENTUK KEGIATAN
Bentuk Kegiatan ini adalah observasi dan inventarisasi terhadap habitat dan populasi tanaman Raflessia rochucenii dan kondisi geomorfologi Gunung Mandalawangi (TNGP).
SUSUNAN KEPANITIAN
Terlampir
JUMLAH DAN NAMA ANGGOTA MUDA AZIMUTH XVI
Terlampir
SUSUNAN KEGIATAN
Terlampir
LAPORAN ANGGARAN BIAYA
Terlampir
PENUTUP
Demikianlah laporan kegiatan ini kami buat untuk diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk dapat digunakan sebaik-baiknya.
Lampiran 1.
SUSUNAN KEPANITIAAN
Ketua Pelaksana : Parubahan Harahap. A14070075
Kesekretariatan : Heni Pratiwi A14070060
Bendahara : Citra Leonataris A14070023
Acara : Alfarizi A14070094
Adi Yudha A14070061
Novi Prihatin A14070021
Konsumsi : Luqmanul Abidin A14070103
Farid Ridwan A14070087
Logistik : Choirul Muna A14070102
Tommi A14062994
M. Nizar K A14070070
Publikasi dan Dokumentasi : Dona Suhmana A14070090
Herdian Priambodo A14070097
Hubungan Masyarakat : Rahmat Alpianto A14070017
Aulia B. M A14070072
Lampiran 2.
JUMLAH DAN NAMA ANGGOTA MUDA AZIMUTH XVI
Jumlah anggota muda azimuth XVI ini adalah 15 orang, dengan nama-nama sebagai berikut :
1. Yuwan Pratama Baki. A14080091
2. Yudhi Castio A14080093
3. Sheilla Riandanny Poetri H A14080021
4. Anjar Hafibhun A14080058
5. Siti Nurjannah A14080111
6. Faqihna Pidin A14080020
7. Ulfika Isrory Artha. A14080071
8. Mega Yeni Purba A14080054
9. Akhmad Mediranto A14080095
10. Saeful Ramadhan A14080070
11. Imam Setiyadi A14080055
12. Rosiana Habayahan A14080056
13. Nancy Slarwamin A14080109
14. Selvia A Fordatkosu A14080107
15. Nur Etika Karyati A14080063
Lampiran 3.
SUSUNAN KEGIATAN
1. 25 januari 2010
14.00 – 15.00 : kumpul & cek perlengkapan
15.00 – 15.30 : upacara pemberangkatan
15.30 – 16.00 : sholat
16.00 : berangkat & pendirian camp
2. 26 januari 2010
05.00 – 06.00 : ishoma & persiapan
06.00 – 07.00 : olah raga, dilanjutkan packing
07.00 – 07.30 : penjelasan perjalanan
07.30 – 13.00 : peserta melakukan susur sungai sekaligus pengamatan perubahan tataguna lahan, panitia melanjutkan perjalanan ke camp 1, pengamatan perubahan tata guna lahan
13.00 – 16.00 : pendirian camp, dilanjutkan eksplorasi (pencarian) raflesia
19.00 – 20.00 : evaluasi kegiatan hari I
20.00 - : istirahat
3. 27 januari 2010
06.00 – 07.00 : ishoma & persiapan
07.00 – 11.00 : melanjutkan eksplorasi raflesia
11.00 – 17.00 : penyambutan peserta dari susur sungai
17.00 - : istirahat
4. 28 januari 2010
09.00 – 16.00 : penjelasan perjalanan ke camp II
10.00 – 16.00 : pemberangkatan ke Camp II sekaligus pengamatan
16.00 - : pendirian camp & istirahat
5. 29 januari 2010
05.00 – 17.00 : pendakian ke puncak serta pengamatan flora dan fauna
17.00 – : kembali ke camp I
6. 30 januari 2010
01.00 – 05.00 : peserta dan panitia kembali ke lapangan, dilanjutkan upacara penutupan
05.00 – : diskusi (sharing kegiatan), dilanjutkan pulang menuju IPB.
LAPORAN ANGGARAN DANA
| PENGELUARAN (Rp) | ||
| Konsumsi | ||
| 1 | Makan | 682.600 |
| 2 | Snack | 44.800 |
| 3 | Ngeliwet (penutupan) | 100.000 |
| Logistic | ||
| 1 | Golok | 100.000 |
| 2 | Slayer | 150.000 |
| 3 | Spritus | 36.000 |
| 4 | Trasbag | 25.000 |
| 5 | Plastik | 13.500 |
| 6 | Tali raffia | 15.000 |
| 7 | Tali tambang | 12.000 |
| 8 | Kompor paraffin | 50.000 |
| 9 | Sumbu kompor | 2.000 |
| 10 | Karet | 10.000 |
| 11 | baju azimuth | 750.000 |
| Tranportasi | ||
| 1 | Survey | |
| 2 | Truck | 1.000.000 |
| Perizinan | ||
| 1 | Ke TNGP | 180.000 |
| 2 | Ke desa | 350.000 |
| P3K | 78.000 | |
| | ||
| Total pengeluaran | Rp.3.598.900 | |
| PEMASUKAN DANA | ||
| 1 | Departemen ITSL | 2.200.000 |
| 2 | Swadaya anggota | 1.000.000 |
| 3 | Dana Semnas | 200.000 |
| 4 | kas azimuth | 200.000 |
| | ||
| | Total Pemasukan | Rp.3.600.000 |
| Sisa | Rp.1.100 | |
Landasan Teori
Bioekologi Rafflesia Rocusseni T et Binn
Genera rafflesia pertama kali dibuat tatanamanya oleh Robert brown pada tahun 1820 dalam “ Transaction Linnean Society Vol XIII” berdasarkan lukisan koleksi raffles yang menemukan Rafflesia arnoldi bersama Dr Yoseph Arnold pada tahun 1818 di pulau lebar dekat sungai manna Bengkulu (Kooders, 1918).
Klasifikasi tumbuhan Rafflesia Rocusseni adalah sebagai berikut (backer, 1963) :
Divisi : spermatophyte
Klas : angiospermae
Subklas : dicotyledoneae
Ordo : sristolochiales
Genera : rafflesia
Spesies : Rafflesia Rocusseni T et bin.
Organ vegetative rafflesia terdiri dari benang-benabg haus (thallus), seperti mycelium pada fungi yang terdapat di dalam akar(kuijt, 1969). Bunga adalah satu – satunya bagian tumbuhan yang dapat dilihat dengan mata biasa. Tumbuhan ini termasuk berumah dua atau dioeceus, bunganya terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang terdapat pada individu yang berlainan (backer, 1963 dan kuijt, 1969).
Penyebaran Rafflesia Rocusseni tercatat di garut, dan terutama sekitar gunung gede – pangrango dan gunung salak di bogor (van steenis, 1941). Di gunung gede – pangrango Rafflesia Rocusseni pernah di temukan di kaki gunung mandalawangi, yaitu lereng gunung pangrango yang menghadap kea rah ciawi (koorders, 1918); di lereng barat laut (cibodas)dan selatan gunung gede kea rah bojong lopang, jampang(van steenis, 1941).di gunung salak spesies ini pernah ditemukan di gunung perbakti di utara parasakan salak(1917) dan didekat cicurug (koorders, 1918). Semua lokasi penemuan terletak di hutan hujan pada ketinggian antara 700 hingga 1400 m dpl. Dari sekian banyak lokasi penyebaran berdasarkan literature yang sudah tua, hanya lokasi hutan lindung gunung salak yang diketahui masih ada Rafflesia Rocusseni, sedangkan lokasi lain tidak ada kabar beritanya.
Diameter bunga berkisar antara 14-30 cm. berwana merah tua sampai ungu kecoklatan, permukaan atas permukaan bunga berbintil-bintil kecil. Puncak kolom bunga (columnae) mendatar serupa piring, tanpa atau dengan tepian yang menarik perlahan; taju poros bunga (processus) tidak ada atau 1-8 buah, berbentuk kerucut lebar setinggi 3-7mm (koorders, 1918; backer, 1963).
Rafflesia Rocusseni merupakan parasit pada tetrasigma koorders, 1918 menyebutkan T. serrulata sebagai inang R.rochusseni, sementara van steenis mencata T.hookeri dan Tpapillosum sebagai tumbuhan inangnya.
Bunga R.rochusseni yang ditemukan Lawalata IPB bulan mei 1990 berjumlah enam buah, tumbuh mengelompok berdekatan pada bidang tanah seluas 0.25m2 bunga – bunga tersebut muncul di bagian lantai hutan hujan pegunungan yang bebas tumbuhan bawah, dengan ketebalan humus 3-5cm. jenis-jenis pohon penyusun tajuk hutan terutama schima, macaranga, castanopsis dan Elaeocarpus (lawalata IPB,1990).
R.rochusseni ditemukan pada lereng tenggara gunung salak, pada pegunungan yang relatif datar (kemiringan 17 - 180). Meskipun berada di bawah naungan berat, bunga – bunga ini disaat – saat tertentu masih dapat tersinari matahari di hari cerah tercatat hingga kurang lebih pukul 16.00
Menurut amzu (1987) komponen ekologis rafflesia yang utama adalah : tumbuhan inang dengan segala proses dan mekanisme asosiasinya, binatang penyerbuk dan penyebar biji, iklim mikro, tipe dan struktur vegetasi serta keadaan tanah.
Kepunahan jenis
Dasar pembentukan jenis dalam lingkungan yang stabil seperti dalam ekosistem hutan hujan tropika prier sangat tinggi dan cenderung mengarah kepada pembentukan jenis-jenis yang khas (Cox, Healy dan Moore, 1987). Hal ini tidak lain karena setiap lingkungan mikro disuatu lokasi/habitat memberikan satu relung ekologis bagi suatu spesies tertentu. Tumbuhan parasit rafflesia tergolong ke dalam jenis khas yang dalam penyebaran taksonnya sangat terbatas dan mengkehendaki persyaratnan tempat tumbuh yang khas pula.
Implementasi dari teori ini adalah bahwa setiap tindakan manusia walaupun hanya berakibat berubahnya lingkungan mikro (misalnya tindakan penebangan satu atau beberapa pohon) akan menyebabkan terganggunya kehidupan satu atau lebih organisme.
Menurut usher (1973) ada beberapa hal yang harus diketahui oleh pengelolah dalam upaya perlindungan dan pelestarian tumbuhan langka, yaitu :
1. Sebab sebab kelangkaan dari jenis tersebut dan kecenderungan perkembangan populasinya
2. Kondisi lingkungan yang optimum unntuk perkembangannya dalam usaha untuk memantapakan jenis tersebut.
3. Perkembangan serta proses penyebarannya.
Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa hal yang sangat menarik untuk dikaji tentang kehidupan R.rochusseni yaitu meliputi tumbuhan inangnya, hewan penyerbuk dan penyebar biji, asosiasi vegetasi, iklim, tanah dan abiotik lainnya.
Karakteristik tumbuhan inang R.rochusseni
Spesies tumbuhan inang
Dari penelitian pada petak-petak kajian diidentifkasi bahwa tumbuhan inang dari R.rochusseni adalah tetrastigma lanceolarium, dengan nama local areui kawao.
Morfologi
Penampakan luar T lanceolarium mempunyai permukaan batang yang tidak merata, kulit batang lunak dan pecah-pecah, serta banyak mengandung air. Penampang lintang batang bulat agak lonjong, dengan diameter batang yang keluar dari permukaan tanah dari beberapa millimeter hingga tidak lebih dari 15 cm. batang tidak melilit batang penunjang seperti umumnya tumbuhan liana lainnya, melainkan merambat dari pohon ke pohon dengan mengeluarkan sulur-sulur dari pangkal tangkai daun dan menempel atau melilit pohon penunjangnya sehingga batang dapat dengan kokoh merambat pohon penunjang untuk mencari sinar matahari sampai ke tajuk.Daun majemuk dengan bentuk menjari, terdiri dari tiga helai daun
Anatomi dan fisiologi
Sifat anatomi T lanceolarium diantaranya adalah mempunyai jaringan kayu yang lunak, berpori banyak dan besar, permukaan kulit akar dan batang pecah-pecah, beralur, serta banyak mengandung air.
Hubungan pertumbuhan R rocusseni dengan T lanceolarium
Perumbuhan rafflesia rocusseni sanngat erat kaitannya dengan keberadaan tetrasigma. Populasi T. lanceolarium di hutanlindung gunung salak cukup melimpah. Hasila analisa pada habitat R rocusseni rata-rata di temukan tujuh batang T lanceolarium setia 0,1 ha. Hal ini sangat potensial bagi kelangsungan kelestarian populasi R rocusseni, dimana berdasarkan pengamatan diketahui bahwa rata-rata satu batang T lanceolarium dapat mendukung sepuluh individu R. rocusseni.
Sifat anatomis dan morfologis daria akar dan batang inang, yaitu memiliki jaringan kayu yang lunak, berpori banyak, permukaan akar kulit dan batang yang kasar pecah - pecah, serta banyak mengandung air agaknya sesuai juga bagi media perkecambahan biji parasit R. rocusseni serta perkembangan organ vegetativenya (hauostorium) kedalam organ tumbuhan inang. Berdasarkan pengamatan diketahui juga bahwa R rocusseni banyak mengandung air. Agaknya sifat ini sesuai dengan relung yang disediakan aoleh tumbuhan inang T lanceolarium.
Hasil analisis kimia perakaran dan dan batang T lanceolarium yang di tumbuhi dan tidak ditumbuhi rocusseni serta kuncup R rocusseni menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur N,P,K,Ca,Mg,Si,S,Fe,Cu,Zn, dan Mn lebih tinggi dari pada jaringan peraakaran dari pada batang dimana perakaran T lanceolarium yang ditumbuhi kandungan R. rocusseni unsure N SI Mn Cu Fe jauh lebih tinggi. Unsur-unsur ini agaknya banyak digunakan oleh R. rocusseni mengingat pada kandungan unsur ini pun cukup tinggi. (Zuhud dkk, 1993)
EROSI
Sebagai sumber daya yang banyak digunakan, tanah dapat mengalami pengikisan (erosi) akibat bekerjanya gaya – gaya dari agen penyebab, misalnya, air hujan, angin, dan/atau hujan. Secara alami tanah mengalami pengikisan atau erosi. Erosi ini sering disebut dengan erosi geologi atau geological erosion. Erosi ini tidak brbahaya karena lajunya yang seimbang dengan pembentukan tanah di tempat terjadinya erosi tersebut. Kehadiran manusia sejak pertama kali di bumi ini, disadari atau tidak, mulai meningkatkan laju erosi. Erosi ini terjadi karena terjadinya perubahan pola penutupan lahan, dari pola alami menjadi pola buatan manusia. Erosi ini deikenal dengan sebagai “erosi dipercepat” atau accelerated erosion.
Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tanah meliputi hujan, angin, limpasan permukaan, jenis tanah, kemiringan lereng, penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya, dan ada atau tidaknya tindakan konservasi. Factor – factor tersebut dalam mempengaruhi erosi sebetulnya tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan lainnya, artinya bekerja secara simultan.
Masalah erosi di Indonesia, dalam hal ini erosi akibat campur tangan manusia, sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Barangkali bersamaan dengan pembukaan lahan untuk usaha pertanian oleh nenek moyang bangsa ini ribuan tahun yang lalu. Namun demikian, kepedulian manusia terhadap proses ini memang terbilang baru yakni sekitar abad ke-19 pada waktu itusebagian hutan di jawa oleh belanda dibuka scara besar-besaran untuk usaha perkebunan. Seperti dikemukakan oleh utomo (1989) bahwa akibat pembukaan hutan besar-besaran itu terjadi banjir di sungai-sungai utama seperti Bengawan Solo, Ciliwung, dan Citanduy, yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
Terjadinya erosi pada lahan yang terbuka yang diikuti hilangnya bahan organik dan pemadatan tanah menyebabkan penurunan kapasitas infiltrasi tanah. Akibatnya hujan yang terjadi selanjutnya akan dengan mudah terakumulasi di permukaan membentuk limpasan permukaan (run-off), hanya sedikit air yang masuk kedalam tanah. Itulah sebabnya kenapa, seperti yang telah dijelaskan, daerah hulu mengalami erosi berat dengan mudah kekurangan air terutama dimusim kemarau. Dengan kata lain, kemampuan hidro-orologis daerah itu telah berkurang (Rahim, 1992b).
LAPORAN EKSPLORASI RAFLESIA PADA SAAT DIKLATSAR AZIMUTH XVI
A. Eksplorasi Rafflesia, Flora Fauna, dan Kerusakan Lahan
Rafflesia merupakan tanaman langka yang pada saat ini sudah sangat sulit dijumpai, hanya beberapa tempat tertentu saja di Indonesia ini yang dapat dijumpai baik Rafflesia rocusseni maupun Rafflesia arnoldi, misalnya di daerah Bengkulu dan Jawa Barat terutama di daerah Gunung Salak dan Taman Nasional Gede Pangrango.
Genera Rafflesia pertama kali dibuat tata namanya oleh Robert Brown pada tahun 1820 dalam “ Transaction Linnean Society Vol XIII” berdasarkan lukisan koleksi Raffles yang menemukan Rafflesia arnoldi bersama Dr Yoseph Arnold pada tahun 1818 di pulau lebar dekat sungai manna Bengkulu (Kooders, 1918).
Klasifikasi tumbuhan Rafflesia rocusseni adalah sebagai berikut (backer, 1963) :
Divisi : spermatophyte
Klas : angiospermae
Subklas : dicotyledoneae
Ordo : sristolochiales
Genera : rafflesia
Spesies : Rafflesia Rocusseni T et bin.
Perumbuhan Rafflesia rocusseni sangat erat kaitannya dengan keberadaan tetrasigma, yaitu tumbuhan inang. Rafflesia termasuk tumbuhan parasit karena seluruh hidupnya bergantung pada tumbuhan inangnya yaitu dari jenis Tetrasigma glabaratum dan Tetrasigma lanceolarium. Rafflesia tidak memiliki klorofil, tidak memiliki daun dan hidup melekat pada tumbuhan inangnya dengan alat pelekatnya menyerupai akar (haustorium) untuk menyerap makanan dari inangnya.
Pada bulan juli 2005, tim ekspedisi Mandalawangi dari AZIMUTH melakukan eksplorasi rafflesia di kaki Gunung Mandalawangi. Hasil dari kegiatan eksplorasi tersebut yaitu ditemukan dua jenis Rafflesia di daerah tersebut. Jenis Rafflesia tersebut antara lain Rafflesia rocusseni dan Rhizanthes zippelii. Pada februari 2009, AZIMUTH mengadakan lagi eksplorasi di daerah yang sama, namun hasilnya tidak ditemukan satupun jenis rafflesia. Hal ini kemungkinan disebabkan karena cuaca yang tidak mendukung untuk tumbuhnya Rafflesia, karena cuaca pada bulan-bulan ini senantiasa hujan dan kabut sehingga Rafflesia tidak dapat tumbuh.
Setelah eksplorasi tersebut tidak membuahkan hasil, maka pada 25-30 Januari 2010 AZIMUTH kembali mengadakan eksplorasi Rafflesia. Pada kegiatan eksplorasi kali ini, kami mencoba mencari kembali apakah “puspa langka” ini masih ada di daerah kaki gunung mandalawangi. Hasil dari eksplorasi ini adalah ditemukannya Rafflesia jenis Rhizanthes zippelii. Rhizanthes zippelii merupakan bunga uniseksual atau biseksual. Diameternya mencapai 5-10 cm, dengan warna kemerah-merahan. Dari hasil penelitian, bunga berfamili Rafflesiaceae ini bersiklus hidup 4,5 tahun dengan rincian knop pertama sampai bunga mekar 793 hari, bunga akan mekar hingga 35 hari, bunga mekar hingga layu tujuh hari, bunga layu hingga berbiji 133 hari dan dari biji hingga knop pertama selama dua tahun. Rafllesia ini tinggal pada ketinggian 1.100 m dpl, hanya beberapa ratus meter dari batas hutan taman nasional gede pangrango. Dekatnya jarak habitat Rafflesia ini dengan batas hutan dapat menyebabkan resiko kepunahan Rafflesia semakin besar, karena di batas hutan tersebut merupakan dekat dengan kegiatan pertanian dari penduduk setempat.
Selain Rafflesia, juga ditemukan tanaman langka lainnya seperti kantong semar. Ada dua jenis kantong semar yang berbeda di daerah ini. Kantong semar ini hanya berada pada ketinggian 2.000 mdpl, dan hidup di daerah yang terbuka dimana cahaya matahari sangat mudah masuk ke daerah habitat kantong semar berada. Sangat berbeda dengan keberadaan Rafflesia, dimana hidupnya di daerah yang cukup tertutup dengan cahaya matahari yang hampir tidak pernah menyentuh tanah karena tutupan dari pohon-pohon yang tinggi. Pada ketinggian antara 1.000 sampai dengan 2.000 mdpl bnayak ditemukan begonia, rotan, pisang hutan, jamur-jamuran, pakis, dan bambu. Sedangkan pada ketinggian diatas 2000 mdpl banyak ditemukan tanaman begonia yang cukup besar dan anggrek hutan, selain tumbuh – tumbuhan juga ditemukan jejak dan kotoran Harimau, Belalang ranting, dan hewan yang menyerupai tikus (banyak yang menyebutnya tapir jawa).
Detik-detik kepunahan Rafflesia mulai terdengar sebagai akibat ulah para perambah hutan dan pengunjung petualang alam "gurem" di kawasan TNGP. Dari hasil kajian sementara dapat ketahui beberapa faktor penyebab baik langsung maupun tidak langsung yang sangat mempengaruhi kelestarian Rafflesia.
Faktor penyebab secara langsung adalah:
1. Tidak adanya mekanisme pengawasan dan pengontrolan terhadap berbagai kegiatan di dalam kawasan TNGP.
2. Aturan yang telah dikeluarkan oleh pihak TNGP (Bab V tentang Pengelolaan Hutan pasal 24, UU Kehutanan No. 41 tahun 1999) tidak terimplementasi dengan baik, sehingga para perambah hutan dengan santainya menebang pohon di dalam kawasan TNGP tanpa ada rasa "beban" sedikitpun.
3. Tidak adanya ketegasan dalam hal pemberian sanksi dari pihak TNGP terhadap pelaku pelanggaran perambah hutan.
4. Tidak adanya tanggung jawab dari pihak pengelola TNGP di dalam pelaksanaan tugasnya. Hal ini ditandai dengan kondisi Pos Jagawana di Desa Bojongmurni (lokasi Kaki Gunung Mandalawangi) yang tidak terawat dan tidak berpenghuni.
5. Tidak ada koordinasi yang baik dari pihak TNGP dengan "penguasa" Desa Bojongmurni mengenai penyadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam.
6. Jarak site keluarga Rafflesia yang relatif dekat dengan batas lahan pertanian (± 500 m) dan dari pusat pemukiman penduduk desa (± 3 Km).
Sedangkan faktor penunjang (tidak langsung) akan keterancaman dan kepunahan Rafflesia adalah:
1. Semakin bertambahnya penduduk desa yang menuntut peningkatan kebutuhan papan yang memadai.
2. Masih adanya masyarakat yang masih bergantung pada sumber energi yang berasal dari kayu bakar.
3. Tingkat pendidikan yang relatif rendah sehingga dapat mempengaruhi pola piker yang berkenaan dengan fungsi dan peran kawasan Taman Nasional.
4. Sebagian besar kehidupan masyarakat bermatapencahariannya sebagai petani maupun buruh tani. Hal ini dimungkinkan pada musim-musim tertentu alternative matapencaharian mereka bergantung pada kekayaan alam di kawasan TNGP.
Kerusakan lahan juga terjadi di daerah pendakian, baik di perbatasan hutan dan lading maupun di dalam kawasan hutan sendiri. Pada perbatasan hutan dan lading, banyak dijumpai erosi pada lahan-lahan tersebut karena kondisi lahan yang terbuka tanpa adanya tanaman penutup tanah lagi. Apabila erosi ini terus dibiarkan dan tidak ada penanggulangan dari warga sekitar, maka lahan tersebut akan mengalami kerusakan dan kehilangan daya dukungnya terhadap pertanian.
Di dalam kawasan hutan, juga di temui erosi dan ditemukan pula longsor. Longsor ini diakibatkan oleh hujan yang deras dan pada lahan tersebut pepohonannya cukup sedikit. Berkurangnya jumlah pohon ini dapat saja disebabkan oleh perambah hutan yang mulai memasuki kawasan hutan. Hal ini harus menjadi perhatian yang cukup penting bagi pihak taman nasional.
B. Teknis Kegiatan
Pemberangkatan dilaksanakan tanggal 25 dan berakhir 30 januari 2010, Pemberangkatan dimulai dari kampus Faperta IPB Menuju desa terdekat kaki gunung mandalawangi yaitu Desa Bojong Murni. Tiba sore hari tanggal 25 januari peserta langsung diberangkatkan menuju kaki gunung untuk beristirahat sampai besok pagi. Keesokan paginya peserta disiapkan untuk pemberangkatan ke Gunung Mandalawangi melalui jalur susur sungai. Peserta dibagi menjadi dua kelompok besar, yang masing-masing kelompok menggunakan jalur yang berbeda. Kelompok kiri menggunakan jalur sungai kiri dan kelompok kanan menggunakan jalur sungai kanan. Tujuan dari perjalanan menyusuri sungai adalah agar setiap anggota Azimuth memiliki kemampuan mengarungi sungai dan mengerti cara manajemen sungai. Dalam perjalanan ini, peserta diuji kemampuannya dalam hal navigasi darat untuk menemukan sungai utama yang menjadi tujuan sebagai acuan untuk menaiki igir. Dalam perjalanan peserta juga diwajibkan mengamati dan mencatat semua hasil penemuan baik flora maupun fauna serta perubahan lahan yang terjadi yang didapat selama perjalanan.
Setelah menyusuri sungai selama satu hari dan bermalam didaerah dekat sungai, pada hari ketiga peserta diwajibkan mendaki tebing igir, dimana kelompok sungai kanan akan mendaki igir ke sebelah kiri dan kelompok sungai kiri akan mendaki igir ke sebelah kanan hingga nanti bertemu di punggungan igir yang sama. Setelah sampai di punggung igir-igir, para peserta akan bertemu dengan panitia yang sudah lebih dahulu berada di atas igir, tepatnya disebut camp I (satu). Setelah bertemu panitia, peserta segera berisitirahat karena keesokan harinya mereka harus melanjutkan perjalanan ke camp II (dua). Keesokan paginya yaitu hari keempat setelah makan pagi, makanan peserta pun disortir. Tujuan dari penyortiran ini adalah untuk melatih kemampuan survival calon anggota Azimuth. Diharapkan calon anggota Azimuth mampu memanfaatkan berbagai jenis makanan yang ada di alam untuk dikonsumsi. Berbagai jenis tumbuhan yang dapat dikonsumsi ini sudah diajarkan ketika perkuliahan Azimuth. Selain itu disini mereka dilatih dalam manajemen makanan dan air agar mereka bisa tetap bertahan selama kegiatan.
Selama perjalan ke camp dua banyak tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk dimakan seperti pakis, begonia, pisang hutan, rotan dan masih banyak lagi. Sebagai sumber air minum juga bisa memanfaatkan air yang ada di dalam kantong semar atau air dari lumut yang menempel dipepohonan. Peserta tiba di camp II (dua) setelah menempuh perjalanan selama lima jam. Selama di camp dua, makanan dan minum harus benar-benar dimanajemen karena di camp dua tidak terdapat makanan dan sumber air selain dari lumut dan menampung air pada saat hujan. Setelah sampai di camp dua semuanya istirahat agar besok mampu melanjutkan perjalanan ke puncak.
Keesokan paginya, pada hari kelima sekitar pukul 05.00, semua peserta dan panitia melakukan pendakian ke puncak mandalawangi. Perjalanan di tempuh dalam waktu lima jam untuk berangkat dan lima jam lagi untuk pulang, medan yang dilalui cukup berat karena harus melewati tiga pelana sebelum tiba di puncak. Selama perjalanan tidak ada sumber air yang dapat di ambil, sedangkan sumber makanan hanya begonia yang tumbuh dan itupun hanya terdapt sebelum puncak pelana satu, selama perjalanan banyak ditemukan anggrek hutan yang berwarna ungu menempel dipepohonan. Setelah tiba di puncak Mandalawangi, dilakukan pembagian nomor Azimuth untuk anggota baru. Setelah pembagian nomor anggota Azimuth, semua panitia dan peserta kembali ke camp dua, menjelang tengah hari semua berangkat untuk kembali menuju camp dua. Ini dikarenakan jika pulang terlalu sore akan sangat susah melihat jalan ditambah lagi kabut yang tebal. Sesampainya di camp dua semuanya beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan ke camp satu. Perjalanan cukup memakan waktu yang lama karena kondisi yang sudah letih sehingga perjalanan berlanjut sampai malam. Menjelang tengah malam, peserta tiba di camp satu. Tiba di camp satu, semua istirahat sambil menunggu pagi. Menjelang pagi dihari ke enam, tepatnya tanggal 30 Januari 2010 diadakan upacara penutupan kegiatan serta pelantikan anggota muda Azimuth XVI yang berjumlah 15 orang dan ditandai dengan penyematan slayer Azimuth oleh senior kepada para peserta.
KESIMPULAN
Dari beberapa permasalahan diatas cukup jelas bahwa urusan kelestarian Rafflesia begitu kompleks. Berita "duka" yang dialami oleh keluarga Rafflesia tentunya harus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Walaupun perjuangan kami selama ini tentunya memiliki kelemahan dan keterbatasan. Tetapi kami tidak rela apabila Rafflesia di Mandalawangi mengalami kepunahan seperti yang di alami Rafflesia jenis yang sama ditemukan oleh PA Lawalata-IPB di kawasan Gunung Salak, Bogor. Perhatian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk memelihara kelestarian Rafflesia dan juga menjaga kawasan hutan Mandalawangi dari berbagai potensi yang dapat menimbulkan kerusakan, agar “Mutiara Langka” ini tetap ada dan lestari.
DAFTAR PUSTAKA
Zuhud, E.A.M. dkk. 1993. Bioteknologi dan Penangkaran Rafflesia rochusseni T. et Binn untuk Pelestarian Pemanfaatannya di Gunung Salak. Fakultas Kehutanan. IPB.
Hardjowigeno, S., 1987. Ilmu Tanah. Penerbit Medyatama Sarana Perkasa. Jakarta
Tan,K.H, 1992. Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Terjenahan oleh D.H Gunadi. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta
mantap oi terutamo yang baju kuning
BalasHapus